Tuesday, November 17, 2015

Struktur Batuan Aneh Mirip Patung Berjanggut Terlihat Di Permukaan Mars


AstroNesia ~ Sebuah formasi batuan aneh di permukaan Mars terlihat oleh NASA rover yang memiliki kemiripan dengan sebuah patung seorang pria berjanggut.

Meskipun tidak seheboh seperti penemuan air cair di Mars, aliran penampakan aneh yang terus-menerus muncul dalam foto Mars tetap menarik.

Di antara gambar terbaru itu, ada penampakan formasi batu yang beberapa pengamat UFO melihatnya sebagai wajah patung.


Penemuan ini dibuat oleh Scott C Waring, dari situs UFO Sightings Daily. Gambar ini diambil pada 21 Agustus 2014 atau Sol 726. Dia juga mengatakan bahwa struktur batuan ini mirip patung wajah Mesopotamia kuno.


Kendati demikian, foto tersebut mungkin Pareidolia. Pareidolia sendiri adalah saat dimana mata menggambarkan objek yang sedang dipikirkan oleh otak, walau dalam kenyataannya objek tersebut tidak ada.

Bagaimana menurut anda? 


Link gambar NASA : http://mars.nasa.gov/mer/gallery/all/1/p/2139/1P318075869EDNAB66P2277L1M1.JPG

Video : Evolusi Manusia Selama 6 Juta Tahun Terakhir Dalam Durasi 1 Menit


AstroNesia ~ Ini adalah video yang dibuat oleh Yale Press pada tahun 2013 yang menunjukkan evolusi manusia selama 6 juta tahun terakhir dalam durasi 1 menit.  

Video ini didasarkan pada buku paleoartist John Gurche - Shaping Humanity: How Science, Art and Imagination Help Us Understand Our Origins - yang diterbitkan oleh Yale Press.

Dalam buku itu, Gurche menggunakan penemuan fosil dan teknik forensik untuk membuat rekonstruksi dari nenek moyang manusia yang telah lama hilang.

Satu-satunya wajah yang hilang dalam video ini adalah Homo Naledi yang baru ditemukan.

Jadi biarkan perang komentar dimulai, tapi bersikap sopan ya :)

Teleskop Hubble Ambil Citra Galaksi Kesepian MCG+01-02-015

MCG+01-02-015

AstroNesia ~ Hanya tiga bintang lokal yang muncul dalam gambar ini, terlihat seperti payung paku difraksi. Segala sesuatu selain mereka adalah galaksi; mengambang seperti segerombolan mikroba dalam setetes air.

Di latar depan, lengan spiral MCG+01-02-015 tampak membungkus satu sama lain, seperti kepompong galaksi. Foto ini seperti menunjukkan kelimpahan galaksi sahabat untuk MCG+01-02-015, tapi itu tidak benar. Sebaliknya, MCG+01-02-015 ini terletak dalam kosmos di lokasi yang kosong (void) sehingga tidak memiliki teman di dekatnya, sebuah galaksi yang kesepian.

Sebagian besar galaksi yang membentang di sepanjang formasi filamen galaksi yang terlihat seperti benang yang membentuk struktur skala besar alam semesta ditarik bersama-sama oleh pengaruh gravitasi menjadi benang tenun berliuk-liuk melalui ruang. Di antara filamen ini, ada peregangan besar yang disebut void; galaksi di wilayah ini sangat langka karena haya ada sangat sedikit materi di wilayah ini, sekitar satu atom per meter kubik. Contohnya rumah MCG+01-02-015 ini, di Bootes Void yang membentang 250 juta tahun cahaya.

Galaksi ini sangat terisolasi di banding galaksi kita.Citra galaksi latar belakang pada gambar diatas terletak sangat jauh dari galaksi MCG+01-02-015. Gambar diambil oleh teleskop Hubble menggunakan Advanced Camera for Surveys.

Studi : Superflare Monster Hancurkan Atmosfer Planet Kembaran Bumi Kepler-438b

Ilustrasi Kepler-438b yang digempur amukan partikel bintang

AstroNesia ~ Daftar singkat planet alternatif yang bisa mendukung kehidupan mungkin saja kehilangan pesaing yang paling menjanjikan.

Kepler-438b, yang sebelumnya dijuluki kembaran Bumi, sedang di hujani oleh 'superflares' perusak setiap beberapa ratus hari. Baca :
NASA Mungkin Telah Menemukan Planet Paling Mirip Bumi

Para ilmuwan percaya bahwa radiasi ini, yang berasal dari bintang kerdil merah Kepler-438, mungkin telah menghancurkan atmosfer planet dan membuatnya tidak layak huni.




Penemuan itu dilakukan setelah para peneliti dari University of Warwick menganalisis data yang dikumpulkan oleh observatorium luar angkasa NASA Kepler.

Walaupun matahari kita juga menghasilkan flare, superflares Kepler-438 ini sepuluh kali lebih kuat dari flare yang terkuat yang pernah diamati pada bintang kita - setara dengan 100 miliar megaton TNT.

Mereka juga terjadi lebih sering, hanya setiap beberapa ratus hari.

Namun, superflares saja tidak akan merusak atmosfer Kepler-438b ini, kata peneliti utama studi tersebut, David Armstrong.

Masalah sebenarnya adalah intensitas superflares ini hampir selalu dikaitkan dengan fenomena lain yang merusak, coronal mass ejection (CME).
'CME biasanya melemparkan material, seperti gas dan plasma, yang sangat mungkin telah melucuti seluruh atmosfer planet ini, "katanya.

"Jika Kepler-438b, memiliki medan magnet seperti Bumi, mungkin akan terlindung dari beberapa efek.

'Namun, jika tidak, atau flarenya cukup kuat, itu bisa saja menghilangkan atmosfernya, akan disinari oleh radiasi tambahan berbahaya dan menjadi tempat yang jauh lebih keras bagi kehidupan yang ada.'


"Tapi sejauh ini, kita tidak tahu apa-apa tentang medan magnet planet ini.

"Itu tergantung bagaimana planet ini terbentuk di tempat pertama, yang masih belum diketahui. '

Planet Kepler-438b, yang terletak di konstelasi Lyra sekitar 470 tahun cahaya dari Bumi, di perkirakan memiliki ukuran dan suhu seperti Bumi.

Tetapi berjarak cukup dekat dengan bintang induk katai merahnya dibanding Bumi dengan Matahari kita.


Awal tahun ini, Kepler-438b memuncaki daftar NASA dari delapan planet mirip Bumi yang dianggap mampu mendukung kehidupan.

Daftar 8 planet mirip Bumi yang berpotensi layak huni per januari 2015 milik NASA
  
Ini bisa berubah sekarang setelah penemuan Warwick University.

'Kehadiran atmosfer sangat penting untuk perkembangan kehidupan, "kata Chloe Pugh, dari university's Centre for Fusion, Space and Astrophysics.

'Walaupun atmosfer di planet ini sisa sedikit, planet ini juga akan diserag UV yang keras dan radiasi sinar-X dari superflares, bersama dengan radiasi partikel bermuatan, yang semuanya merusak kehidupan.


Untungnya, masih ada tujuh planet lain yang dapat kita taruh harapan.

Misalnya, saat melakukan penelitian ini, ia dan timnya juga melihat data dari lain planet seperti Bumi yang disebut Kepler-296e, mereka menemukan bahwa 'kondisinya masih bersahabat untuk kehidupan.

Monday, November 16, 2015

Studi Asal Mula Air Di Bumi Temui Titik Terang

Ilustrasi Bumi

AstroNesia ~ Air adalah elemen paling penting bagi kehidupan seperti yang kita kenal. Tanpa air, Bumi akan kering. Tapi asal usul air bumi telah menjadi debat panjang peneliti.

Ada dua teori besar tentang asal usul air bumi. Pertama, air memang muncul bersamaan dengan terbentuknya bumi.  Teori ini meyakini air bumi dulunya berasal dari kurungan batu dan debu asli yang membentuk bumi.

Karena material pembentuk bumi itu runtuh akibat beban gravitasi yang mereka miliki, maka air kemudian keluar dan akhirnya membentuk lautan.  Sementara teori kedua menyebutkan air muncul dari luar bumi bersamaan dengan serangan asteroid dan meteroit ke permukaan bumi.



Namun, analisa terakhir dari tim peneliti University of Glasgow, Skotlandia membuktikan asal usur air cenderung ada di teori pertama.  Dikutip dari Dnaindia.com, Senin 16 November 2015, kesimpulan peneliti itu didasarkan oleh analisa lava dari dalam mantel bumi. Material dari dalam bumi itu menujukkan butir debu yang direndam air saat awal tata surya.

Sampel lava yang dipelajari peneliti menujukkan perwakilan sangat murni dari material bumi yang baru lahir. Dengan demikian, sampel tersebut bisa menunjukkan rincian menarik tentang perdebatan panjang tentang asal usul air bumi.

Dalam penelitian, peneliti mempelajari asal usul air bumi dengan menganalisa rasio deuterium/hidrogen (D/H) air. Ini merupakan rasio atom hidrogen yang masing-masing memiliki satu neutron atau tak ada neutron.  Peneliti mengatakan hal yang bisa mempengaruhi rasio atom tersebut dari waktu ke waktu adalah percampuran tektonik.

Kemudian peneliti menemukan material butir debu yang dianalisa dari aliran lava yang bergejolak dan menaikkan basal (batuan beku berwarna gelap, berbutir halus). Basal ini muncul ke permukaan di Pulau Baffin, Kanada dan dianalisa tim peneliti.

Dari uji sampel basal tersebut, peneliti menemukan sampel relatif tak berubah setelah mereka meneliti helium, neon dan komposisi timah.

Analisis rasio D/H pada basal menunjukkan jumlah deuterium yang lebih rendah dari yang ditemukan dalam studi sebelumnya dalam studi rasio air lautan. Dengan demikian membuktikan dasar baru bagi tanda asli D/H bumi.  Penulis studi menunjukkan ada satu kemungkinan rasio D/H lebih rendah ini bahwa partikel debu direndam air hadir pada awal tata surya yang tertanam dalam bumi selama pembentukannya.

Objek Seperti Tikus Raksasa Berukuran 3 Meter Terlihat Di Mars


AstroNesia ~ Pemburu UFO mengklaim temukan bukti adanya "tikus raksasa" yang memiliki panjang 3 meter berkeliaran di permukaan Mars.

Temuan ini dilakukan oleh Jason Hunter dari Youtube, yang dikenal gemar menjelajahi gambar Mars di situs NASA yang diambil Curiosity rover.



Jika gambar tersebut di zoom in, tampak bentuk menyerupai hewan pengerat itu namun dengan telinga, ekor, juga mata yang terlihat besar.  Hingga kini, belum ada pihak yang dapat memastikan kebenaran gambar tersebut adalah benar-benar tikus raksasa yang hidup di Mars.

Kendati demikian, masih banyak ilmuwan yang belum yakin dengan foto tersebut dan menyebutnya sebagai fenomena Pareidolia. Pareidolia sendiri adalah saat dimana mata menggambarkan objek yang sedang dipikirkan oleh otak, walau dalam kenyataannya objek tersebut tidak ada.

Bagaimana menurut anda? 


Link gambar NASA :  http://mars.jpl.nasa.gov/msl-raw-images/msss/00509/mcam/0509MR0020050020303165E01_DXXX.jpg

Video Sampah Antariksa "WT1190F" Saat Memasuki Bumi


AstroNesia ~ Sebuah sampah antariksa misterius yang diberi label "WT1190F" kembali memasuki atmosfer bumi seperti yang diperkirakan sebelumnya. Objek ini jatuh di atas Samudera Hindia, lepas ujung selatan Sri Lanka, Jumat lalu.

Pada tanggal 13 November pukul 06:18 UTC, WT1190F (yang kemungkinan sisa puing roket dari beberapa misi ke bulan atau antarplanet sebelumnya) terbakar saat masuk ke Bumi dan tidak menjadi ancaman bagi siapa pun di bumi karena objek ini memiliki kepadatan rendah dan ukurannya yang kecil (3-6 kaki atau 1-2 meter).



Dikatakan bahwa hanya orang yang terletak di provinsi selatan Sri Lanka memiliki kesempatan untuk melihat objek ini masuk.

Peristiwa ini adalah fenomena pertama bagi para ilmuwan yang berhasil menghitung waktu dan lokasi tepat dimana objek itu jatuh ke Bumi.